Laporan Kuliah Lapangan Dakwah Kontemporer dan Enterpreneurship
Pada tanggal 13 April 2019 Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam semester
2 melakukan kuliah lapang di kawasan yang dulunya menjadi pusat Prostitusi,
tempat itu biasanya disebut dengan Dolly, Dolly atau Gang Dolly adalah nama
sebuah kawasan lokalisasi pelacuran yang terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya,
Jawa Timur,
Indonesia.
Di kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur "dipajang" di dalam
ruangan berdinding kaca mirip etalase. Konon lokalisasi ini adalah yang
terbesar di Asia Tenggara lebih besar dari Patpong di Bangkok,
Thailand
dan Geylang
di Singapura.
Bahkan pernah terjadi kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah
satu daerah tujuan wisata
Surabaya bagi wisatawan mancanegara. Gang Dolly ini sudah ada sejak zaman
Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda
yang dikenal dengan nama Dolly van der mart.
Keturunan dari Dolly sampai sekarang masih ada di Surabaya, meskipun sudah
tidak mengelola bisnis. Kawasan Dolly berada di tengah kota, berbaur dengan
pemukiman penduduk yang padat, di kawasan Putat, Surabaya.
Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rezeki bagi banyak pihak.
Bukan hanya bagi pekerja seks, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokok,
tukang parkir, tukang ojek, dan tukang becak. Para pekerja seks berasal dari Semarang,
Kudus,
Pati, Purwodadi,
Nganjuk,
Surabaya,
dan Kalimantan.
Lokalisasi Dolly yang tersebar di lima
RW di wilayah Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, memang terbagi menjadi
dua lokalisasi. Pertama, lokalisasi Gang Dolly sebenarnya Jalan Kupang Gunung
Timur I– serta deretan wisma yang terletak di sisi selatan Jalan Jarak. Kedua,
lokalisasi Jarak yang letaknya tepat di seberang jalan lokalisasi Dolly. Saat
masih beroperasi, ada perbedaan mendasar antara lokalisasi Dolly dan Jarak,
yakni kualitas dari para PSK yang ada. "Mbak-Mbak" di Dolly memang
lebih muda dan cantik sehingga memiliki tarif yang lebih tinggi, berkisar Rp200
ribu hingga Rp500 ribu untuk sekali kencan. Sedangkan Jarak yang areanya justru
lebih luas, kualitas "Mbak-Mbak" dan tarifnya di bawah Dolly. Para
"Mbak" yang sebelumnya beroperasi di Dolly dan mulai berumur, harus
rela bergeser operasi ke wilayah Jarak apabila tetap ingin bertahan di kawasan
merah tersebut. Berapa tarif "Mbak-Mbak" yang ditawarkan Arief tadi?
Dia menyebut Rp300 ribu untuk Mita dan Laras, sedangkan Widya Rp250 ribu untuk
kencan sekitar satu jam. “Itu sudah termasuk bayar kamar di sekitar sini. Kalau
sampeyan mau bawa ke hotel, kamar hotelnya sampeyan bayar sendiri,” kata Arief
yang mengaku mendapat fee dari para "Mbak" tadi antara Rp35 ribu
hingga Rp50 ribu. Bisnis prostitusi tampaknya tak bisa hilang begitu saja di
bekas lokalisasi Dolly yang secara resmi telah ditutup oleh Walikota Surabaya
Tri Rismaharini pada 18 Juni 2014. Masih ada yang melakukannya dengan cara
sembunyi-sembunyi, memanfaatkan berbagai hotel yang letaknya jauh dari Dolly
atau kamar-kamar tertentu di beberapa rumah kost di wilayah tersebut.
Harga Rumah Naik Kawasan Dolly yang pernah disebut sebagai
lokalisasi terbesar di Asia Tenggara dengan 1.449 PSK dan 313 mucikari itu
memang telah berubah wajah. Jika dulu berbagai wisma, karaoke, atau salon
berderet di Jalan Jarak, kini hanya tersisa bekas-bekasnya. Wisma atau salon
berubah menjadi toko komersial seperti mini market, counter handphone dan
pulsa, pangkas rambut, air isi ulang, bengkel motor dan aksesorinya atau warung
kopi. Adapun Gang Dolly atau Jalan Kupang Gunung Timur I juga telah berubah
wajah meski masih tersisa beberapa bangunan rumah dengan kaca etalase yang dulu
dipergunakan para "Mbak-Mbak" menunggu para tamunya. Di ujung jalan
Kupang Gunung Timur I, tepatnya rumah nomor 1A yang terdri dari tiga lantai,
kini dijadikan usaha pangkas rambut “Abassy”. Dulu, tempat itu dikenal orang
sebagai “Salon Ari”. Menurut Ahmad Fauzy (23) pemilik Abassy, dia membuka pangkas
rambut sejak dua bulan lalu. Fauzy baru memanfaatkan ruang etalase eks Salon
Ari untuk bisnis pangkas rambutnya. Selain ruang etalase, masih ada satu kamar
dan satu kamar mandi di lantai bawah. Sedangkan di lantai dua, terdapat empat
kamar berukuran 2 x 2 meter persegi. Masih ada satu kamar lagi di lantai tiga.
Kondisi keenam kamar tersebut gelap dan pengab penanda lama tak dipergunakan.
Interior di dalamnya pun sama, bentuk ranjang dari betonan semen untuk
meletakkan kasur, serta sepetak kecil lantai toilet dan keran untuk berbilas di
ujung ranjang. Fauzy sendiri mengaku masih pusing untuk memanfaatkan keenam
kamar tersebut. Buntut penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak memang berimbas
pada harga sewa dan harga jual rumah di kawasan tersebut. Untuk harga rumah
misalnya, bisa naik hingga tiga kali lipat. Jika dulu masih kawasan lokalisasi,
rumah warga di berbagai gang Putat Jaya di Jarak dengan luas tanah sekitar 100
meter persegi sekitar Rp100 juta, kini melenting menjadi Rp300 juta hingga
Rp350 juta. “Kalau dulu siapa yang mau beli, wong di sebelah-sebelahnya jadi
wisma lokalisasi?” kata Basir, warga Jalan Putat Jaya. Senin malam (19/9/2016).
Hal yang paling menakjubkan dari lokalisasi Jarak, tak lain
berimpitannya wisma prostitusi dan rumah warga nonprostitusi. Pembedanya
hanyalah tulisan mencolok di pagar atau depan rumah, yakni “Rumah Tangga” untuk
rumah warga yang normal. Nama Dolly Dipertahankan Suasana malam di Dolly juga
sudah berubah total. Jika dulu sekitar pukul 22.00, kehidupan malam mulai
berdenyut cepat, kini justru mulai terlihat sepi layaknya perkampungan lain di
Kota Buaya. Semakin larut, kawasan tersebut juga turut terlelap. Kecuali di
beberapa sudut tempat warung kopi yang buka 24 jam, tempat para lelaki
berkumpul untuk sekedar ngobrol melewatkan malam. Kehidupan malam yang sepi itu
memang menyisakan duka bagi banyak warga yang dulu “menggantungkan” hidup dari
kehidupan malam di Dolly. Dari total 15 RW di Kelurahan Putat Jaya, sebanyak
lima RW menjadi tempat lokalisasi dengan total jumlah penduduk sekitar 10 ribu
orang. Saat masih menjadi lokalisasi, banyak warga yang membuka toko di rumah
mereka untuk memenuhi kebutuhan para Mbak-Mbak dan tamu-tamunya. Mulai dari
rokok, sabun, shampo, atau mie instan hingga beras. Begitu lokalisasi ditutup
dan tak ada lagi denyut kehidupan malam, satu per satu toko milik warga pun
ikut tutup. Kondisi inilah yang merupakan pekerjaan rumah besar bagi Walikota
Risma dan jajarannya. “Memang hal terberat adalah mengubah mindset warga asli
untuk mau mengubah cara mendapatkan penghasilan. Sebab dulu mereka memang
berada di zona nyaman, dimanjakan dengan keberadaan dunia malam yang
mendatangkan banyak uang,” kata Yunus, Camat Sawahan kepada tirto.id, pada
Selasa (20/9/2016). Sementara ketika ditanya soal keberadaan bisnis prostitusi
secara sembunyi-sembunyi di wilayahnya, Yunus punya jawaban tersendiri. “Kalau
soal itu, apa bedanya dengan prostitusi online di luar sana? Siapa yang bisa
memberantas habis hal seperti itu?” katanya sembari menekankan pihaknya terus
memantau dan menindak jika memang ada mucikari yang berani melakukan bisnis
prostitusi secara terbuka.
Walikota Risma sendiri bukannya tak menyadari pentingnya memberi
mata pencaharian bagi warga asli di bekas lokalisasi. Sejak lokalisasi ditutup,
Risma menginstruksikan agar dibentuk Usaha Kecil Menengah (UKM) yang bisa
dilakukan oleh warga agar memiliki sumber mata pencaharian yang baru. Maka
terbentuklah 13 UKM. Yakni pembuatan sepatu, tempe “Bang Jarwo”, batik “Putat
Jaya”, konveksi, sablon, bandeng, manik-manik, samiler Samijaya (kerupuk
singkong), minyak rambut, atau minuman. Batik Putat Jaya sendiri terdiri dari
tiga kelompok, yakni Canting Surya, Albujabar dan Jarak Arum. Keberadaan
berbagai UKM tersebut, menurut Camat Yunus, telah bisa memberi penghidupan bagi
sekitar 500 warga. “Tapi kami terus berupaya memfasilitasi para warga yang
ingin dan mau memiliki usaha atau bekerja di UKM yang sudah ada,” katanya.
Berbagai upaya tampaknya terus diupayakan Risma. Salah satunya dengan
meresmikan kawasan Dolly sebagai kampung wisata. Pada Minggu (21/2/2016), Risma
meresmikan “Dolly, Kampung Wisata Penuh Cerita”. Nama Dolly dipertahankan
mengingat nama itu sudah terlanjur mengindonesia dan bahkan mendunia. Berbagai
gang yang ada diberi tema sesuai keberadaan UKM di dalamnya. Sebut saja “Gang
Samijali” untuk Gang Putat Jaya IV-A yang merupakan sentra pembuatan kerupuk
singkong. Atau “Gang Remo”, nama tarian khas Surabaya, untuk Gang Putat Jaya
III-A. Nama tersebut disematkan karena di dalamnya memang ada tempat latihan
bagi generasi muda yang belajar tari Remo. Juga “Gang Batik” untuk Putat Jaya
VIII-B. Risma sendiri mengaku bakal terus berupaya memberdayakan ekonomi di
kawasan eks lokalisasi melalui berbagai macam pelatihan keterampilan. “Dari
pelatihan tersebut, warga diharapkan memiliki keterampilan yang dapat digunakan
untuk menambah penghasilan,” kata Risma, di Balai Kota, pada Jumat (23/9/2016).
Ada harga yang harus dibayar untuk setiap kebijakan yang diambil. Risma
memahami bahwa dia harus membayar kebijakannya menutup lokalisasi Dolly dengan
mencarikan berbagai sumber penghidupan baru bagi warga yang tinggal di bekas
lokalisasi tersebut. Tak mudah memang, tetapi bukan berarti tak bisa.
Empat tahun ditutup, nyatanya bisnis prostitusi di Gang Dolly dan
sekitarnya masih hidup. Namun kini dilakukan sembunyi-sembunyi. Bukti resminya
adalah penggerebekan yang dilakukan anggota Sat Reskrim Polrestabes Surabaya di
salah satu wisma terselubung di kawasan tersebut, akhir Januari 2018 lalu.
Polisi menangkap dua muncikari dan tiga PSK yang tengah melayani pria hidung
belang.
Asal tahu saja, PSK di Dolly dan Jarak memang beda kelas. Sejak
dulu PSK di Dolly terkenal cantik-cantik dan berusia muda. Di Jarak sebaliknya,
cewek yang ditawarkan rata-rata berumur 25 tahun ke atas. Yang cantik memang
ada, tapi jarang. Biasanya mereka adalah ‘pensiunan’ dari Dolly yang kemudian
pindah ke Jarak.
Karena
itu tarif wanita penghibur di Dolly lebih mahal, berkisar Rp 250 ribu sampai Rp
500 ribu sekali kencan. Sementara di Jarak, pria hidung belang cukup merogoh
kocek Rp 200 ribu untuk layanan short time. Adam melanjutkan, angka Rp 300
ribu yang dia tawarkan tersebut sudah termasuk sewa kamar. “Ya di sekitar sini
(kamarnya). Kalau mau dibawa ke hotel, ya sampeyan sendiri yang nanggung
biayanya,” katanya lagi.
Menurut keterangan muncikari yang ditangkap polisi, tarif Rp 300
ribu itu dibagi untuk PSK Rp 200 ribu, muncikari Rp 50 ribu, dan sisanya untuk
sewa kamar. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengakui, melenyapkan praktik
prostitusi di kawasan Dolly tidak bisa dilakukan sekejap.
“Dolly punya sejarah ratusan tahun, nggak mungkin bisa kita hapus
dalam waktu empat tahun (terhitung sejak penutupan tahun 2014, red). Jadi
ya memang masih ada. Tapi insya Allah kami akan berusaha terus, pihak
kepolisian juga sudah berkomitmen,” kata Risma.
Gang Dolly memang banyak menyimpan cerita-cerita pilu di balik
desahan geliat prostitusi. Maklum saja, lokalisasi yang disebut-sebut terbesar
se Asia Tenggara itu hidup berhimpitan di tengah-tengah permukiman warga.
Warga sekitar ada yang terjun, baik secara langsung maupun tidak
langsung dalam menyuburkan lokalisasi itu. Namun tidak sedikit warga yang
tinggal di kawasan tersebut dan benar-benar 'memisahkan diri dari bisnis lender
itu. Kisah- kisah menyedihkan pun dialami anak-anak yang lahir, tumbuh dan
besar di kawasan Gang Dolly dan Jarak. Sejak kecil mereka sudah terbiasa hidup
bertetangga dengan bisnis prostitusi.data yang Data yang disampaikan Yayasan
Crisis Center Cahaya Mentari (CCCM) menyatakan selama 2006 hingga 2014
ditemukan sebanyak 397 kasus kekerasan terhadap anak yang tumbuh di kawasan
Gang Dolly dan Jarak. Berikut data CCCM tentang kekerasan yang menimpa
anak-anak yang tinggal di kawasan lokalisasi prostitusi itu:
1.
Anak laki-laki disodomi dan perempuan diperkosa
Merdeka.com - Yayasan Crisis Center Cahaya Mentari (CCCM)
menyatakan selama 2006 hingga 2014 ditemukan sebanyak 397 kasus kekerasan
terhadap anak yang terjadi di lokalisasi Dolly Kota Surabaya.
Aktivis Yayasan Crisis Center Cahaya Mentari, Mariani, Rabu (2/7)
kemarin mengatakan dari 397 kasus tersebut, rinciannya, kekerasan domestik atau
kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga sebanyak 81 kasus, terdiri atas 49
laki-laki dan 32 perempuan. Kekerasan seksual anak sebanyak 45 kasus, terdiri
atas 15 laki-laki dan 30 perempuan..
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana
Yembise mengaku takjub melihat perubahan Gang Dolly di
Surabaya yang dulu dikenal sebagai lokalisasi prostitusi terbesar se-Asia
Tenggara. Di kawasan itu, Menteri Yohana blusukan di Jalan Kupang Gunung yang
lebih populer dengan sebutan Gang Dolly. Dia kemudian memasuki rumah produksi
Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mampu Jaya di salah satu sudut Gang Dolly. Lama
dia mengamati produk-produk sepatu dan sandal di rumah produksi tersebut,
sebelum kemudian beranjak menuju Jalan Putat Jaya Gang Lebar dengan naik kereta
kelinci atau odong-odong. Di kawasan Jalan Putat Jaya Gang Lebar yang dulunya
berjajar rumah-rumah bordil, Menteri Yohana menyaksikan kini semuanya telah
berubah menjadi rumah tangga. Di salah satu sudut jalan itu terdapat tempat
bernama Dolly Saiki Point, yang menyajikan berbagai produk usaha kecil menengah
(UKM) dari seluruh warga sekitar eks lokalisasi Jarak dan Dolly. Menteri Yohana
tampak berlama-lama mengamati satu per satu produk UKM yang dijual di Dolly
Saiki Point. Dia membeli beberapa produk batik dan camilan. Menteri Yohana
mengaku, sebelumnya melihat perubahan eks Lokalisasi Dolly dan Jarak setelah
ditutup oleh Wali Kota Tri Rismaharini hanya melalui televisi. Satu hal yang
membuat Menteri Yohana salut adalah Wali Kota Tri Rismaharini dinilai telah
berhasil memberdayakan perempuan-perempuan di wilayah eks lokalisasi Dolly dan
Jarak untuk menambah pemasukan ekonomi keluarganya. Dia menambahkan,
Kementerian PPPA bersama Kementerian Sosial saat ini sedang mengupayakan
penutupan lokalisasi prostitusi di berbagai daerah seluruh Indonesia.
2. Anak-anak
jadi pengemis
Menurut data Yayasan Crisis Center Cahaya Mentari (CCCM) kekerasan
terhadap anak-anak di Gang Dolly tidak hanya seksual saja. Mereka juga jadi
korban kekerasan dalam segi ekonomi. Dari data CCCM, banyak anak-anak yang
dipaksa menjadi pengemis. Delapan kasus terdiri atas enam anak laki-laki dan
dua perempuan. Sedangkan anak berhadapan dengan hukum seperti terlibat kasus
kejahatan sebanyak 18 kasus yang terdiri atas 16 anak laki-laki dan perempuan
dua anak. Anak tidak sekolah sebanyak 81 kasus dengan rincian 54 laki-laki dan
27 perempuan. Penelantaran anak sebanyak 14 kasus terdiri atas laki-laki
sebanyak 11 anak dan perempuan 3 anak. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
sebanyak 134 kasus dengan rincian menimpa laki-laki sebanyak 19 anak dan
perempuan 115 anak.
3.
Jadi korban human trafficking
Anak-anak di gang Dolly juga banyak yang jadi korban human
trafficking atau perdagangan manusia. Dari data CCCM, sebanyak 16 kasus jadi
korban perdagangan manusia dengan rincian dua laki-laki dan 14 perempuan. "Anak-anak
yang tinggal di sekitar lokalisasi ini kondisinya sangat memprihatinkan,"
kata Aktivis Yayasan Crisis Center Cahaya Mentari, Mariani. Psikiater Dr. Agung
Budi Setiawan SpKJ mengatakan, jika banyak lembaga yang melakukan pendampingan
terhadap anak-anak yang ada di lokalisasi Dolly, bisa dipastikan jumlah kasus
yang ditemukan akan lebih banyak lagi. Hal ini dikarenakan kasus kekerasan
terhadap anak ibarat fenomena gunung es. Banyak sekali kejadian yang tidak
terlaporkan. "Dari jumlah data tersebut, itu tentu sangat memprihatinkan.
Saya kira para pelaku sudah mengalami gangguan mental. Gangguan mental itu sama
saja dengan gila. Inilah yang sulit tertangani karena gila gangguan mental ini
tidak seperti gila pada umumnya," katanya.
4.
Anak-anak Gang Dolly jadi kriminil
Sebagian besar anak-anak di Gang Dolly sudah dewasa sebelum
waktunya. Artinya, mereka sudah mengonsumsi tontonan dan juga berperilaku yang
tidak seusianya. Contohnya, gemar pesta seks, pesta minuman keras dan juga
pesta sabu. "Biasanya pesta-pesta ini dilakukan di makam Jarak dan juga
makam Kembang Kuning. Di dua tempat inilah banyak anak-anak yang belajar
melakukan tindakan kriminal," kata Aktivis Yayasan Crisis Center Cahaya
Mentari, Mariani. Psikiater dr Agung Budi Setiawan SpKJ mengatakan ada dua hal
penting yang mampu membuat seorang anak menjadi pribadi yang baik. Pertama,
selama dalam kandungan dia merasa nyaman karena orang tuanya tidak pernah
bertengkar, kemudian mendapatkan gizi yang cukup. Kedua, setelah lahir, anak
itu hidup di lingkungan yang berperilaku positif. Yang pertama adalah mikro
kosmos dan yang kedua makro kosmos. "Ibarat tanaman, jika anak itu ditanam
di tanah yang subur, maka ketika tumbuh bisa berbuah. Sebaliknya, jika di taman
di tanah yang tidak subur, bisa jadi tanaman itu nantinya akan mengganggu,"
katanya.
Pelacur telah dikonstruksi sebagai perempuan
nakal, perempuan penggoda laki-laki yang menempati area hitam. Pelacur adalah
kelompok yang terbuang dari dunia putih, baik, terhormat. Sebenarnya dalam
banyak hal, sebenarnya mereka itu adalah korban dari sistem sosial yang tidak
bersahabat dengannya, mereka sebenarnya orang yang sedang menjalani realita
hidup yang (mungkin) tidak diharapkan. Tindakan yang sedang dijalaninya bisa
jadi sebuah keterpaksaan sebagai akibat dari ketiadaan pilihan yang rasional
bagi kehidupannya. Secara umum pasti sepakat, bahwa kehidupan di area
prostitusi bukanlah pilihan utama dalam kehidupan sosial manusia. Bahkan tidak
seorangpun yang menanamkan cita-cita hidup di dunia prostitusi. Kerasnya
terpaan kehidupan sosiallah yang menghantarkan seseorang menjalani kehidupan
prostitusi. Pelacur dianggap sebagai orang yang telah berada di luar norma
masyarakat yang lazim. Padahal sesungguhnya mereka adalah sama seperti manusia
lainnya yang butuh pengakuan sosial.
Aktifitas prostitusi sebenarnya bukan hanya
pada pelanggan dan pelacur namun sudah menjadi milik masyarakat lokalisasi.
Lokalisasi memberikan keuntungan pada kelompok masyarakat lokalisasi:
pelacur, mucikari, calo, tukang
parkir, pemilik warung, pedagang, pengurus kampung ikut merasakan rezeki dari
aktifitas prostitusi ini.
Persoalan dan fenomena lokalisasi tampaknya
sudah terlalu mengakar, rencana pemerintah menutup lokalisasi Dolly dan Jarak
di Surabaya “diprediksi” tak berjalan mulus seperti yang direncanakan. Dalam
memberantas atau menyadarkan pihak-pihak yang terlibat dalam praktik prostitusi
di Kota Surabaya tersebut, khususnya bagi para PSK dan mucikari ini sebenarnya
sudah lama dilakukan pendekatan dakwah persuasif oleh para pemuka agama di Kota
Surabaya.
Prostitusi atau praktik pelacuran merupakan
profesi yang usianyasama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Banyak
kalangan berpendapat bahwa prostitusi
ada sejak manusia ada dan terus berkembang sampai saat ini. Prostitusi berkembang
karena terciptanya mekanisme pasar yang menjadikan pelacuran sebagai suatu
bisnis seksyang sangat menguntungkan. Prostitusi saat ini telah menjadi fenomena sosial yang
menjadi faktor pendukung maraknya hiburan dan kesenangan yang ditawarkan di
beberapa kota di Indonesia, termasuk di Kota Surabaya. Bahkan secara implisit
oleh para pemburu kesenangan telah dijadikan salah satu sex tourisme, karena mengingat prostitusi
yang semakin waktu tidak pernah pernah terlihat surut ada sekitar 21.000
anak-anak yang dilacurkan di Indonesia untuk dijadikan pekerja seks, antara
lain beroperasi di tempat-tempat pelacuran yang terang-terangan dan di panti
pijat, di tempat-tempat karaoke, bar, diskotik dan di jalan-jalan.
Di Surabaya pada tahun 1884, kegiatan pelacuran
muncul di daerah yang menjadi sentral proyek pembangunan jalur kereta api.
Kegiatan prostitusi muncul dan
berkembang untuk melayani pekerja bangunan jalur kereta api, kemudian diikuti
dengan pembangunan tempat-tempat penginapan sebagai sarana pendukung. Pada masa
pendudukan Jepang tahun 1940-an, muncul lokalisasi yang sangat terkenal di Kota
Surabaya yaitu Kembang Jepun. Para
perempuan penghibur disitu melayani hasrat seks tentara yang mencari hiburan di
tengah perang.
Dalam pandangan sejarah munculnya prostitusi
disebabkan pada masa penjajahan permintaan pelayanan seks meningkat sejak
kedatangan laki-laki Belanda yang tanpa istri atau belum menikah ke pulau
Jawa. Prostitusi tidak hanya melayani
para pekerja buruh, tetapi juga masyarakat pelancong ke kota besar yang tinggal di penginapan dan sekaligus juga
menyediakan pelayanan seks. Perilaku seks di kalangan pribumi adalah cerminan
yang terungkap dalam stratifikasi dan pelapisan masyarakat yang tentu saja hal
ini sudah berlangsung jauh sebelum abad ke-20. Hanya yang membedakan adalah
perilaku ini semakin terbuka di tengah masyarakat yang sedang mengalami
transisi secara demografis akibat dari ekonomi liberal, industrialisasi dan
modernisasi. Fungsi seks bagi masyarakat Jawa selain memiliki tujuan yang esensial,
seks sekaligus dinikmati dan diritualisasi sebagai sarana penikmatan hidup,
menyimpan tujuan-tujuan yang bersifat hedonistik.
Akan tetapi sekarang kawasan di Gang Dolly sudah bisa dikatakan
berbeda dari yang dulu menjadi tempat yang kelabu akan hal hal negative berbau
prostitusi, sekarang sudah menjadi kawasan yang lebih baik, itu semua berkat
kerja keras dari walikota Surabaya yaitu bu Risma. Dan ada pula orang-orang
yang berpengaruh dengan penutupannya gang Dolly yaitu beberapa diantaranya:
1.
Dr.
H.A. Sunarto, AS,MEI, sebagai Doktor Prostitusi yang sekarang menjabat sebagai
DEAL MUI Jawa Timur, Dia dari kecil sudah tinggal dikawasan Dolly, sehingga dia
atau betul apa saja yang terjadi di Dolly, sehingga dia mempunyai prinsip
merubah lokalisasi menjadi tempat yang lebih baik. Prinsip dia akhirnya
tersampaikan atas bantuan dari teman-teman dan pemerintah, dia juga melakukan
dakwah secara kelembagaan untuk tempat lokalisasi, dia juga menciptakan
FORKOMNAS( Forum Komunikasi Masyarakat Surabaya), dia juga menjabat sebagai
ketua umum di FORKOMNAS. KH. Drs. Khoiron Syuaib, yang menjadi Kyai Prostitusi,
yang memberikan tausiyah kepada WTS-WTS yang ada di Dolly, sekarang dia juga
menjabat sebagai DEAL MUI Jawa Timur. Mereka juga di bantu oleh H. Gatot
Subianto yang dulunya adalah mantan preman di Dolly yang sekarang sudah insaf.
\
2. KH. Drs.
Khoiron Syuaib, beliau adalah kyai Prostitusi yang sekarang sudah menjabat
sebagai DEAL-MUI JATIM, dia adalah orang yang memberikan tausiyah-tausiyah
kepada para mantan WTS-WTS sehingga mereka lebih mengerti tentang agama. Bapak Khoiron
mempunyai strategi khusus untuk menghadapi audience patologis ( PSK, Germo,
Pereman)
3.
H. Gatot
Subianto dia adalah mantan preman yang hidupnya tidak beraturan, bapak Gatot
dulunya sering mabuk-mabukan, akan tetapi sekarang dia sudah insaf dan menjadi
keamanan di Dolly, dia juga orang yang berperan penting dalam menumpas
tempat-tempat lokalisasi yang ada di Jawa Timur beliau mempunyai motto yaitu “aku
tak punya apa-apa, tapi aku bisa memberimu apa-apa”.
4.
H.
Sunarto Sholahudin, bapak Sunarto adalah seorang pengusaha yang mengelola salah
satu masjid yang ada di Dolly, bapak Sunarto dulunya adalah seseorang yang
mempunyai perjalanan hidup penuh rintangan, bapak Sunarto dulunya juga pernah
berjualan gorengan waktu dia masih sekolah, sebelum sekolah bapak Sunarto menyisihkan
waktunya untuk berjualan. Ketika dia sudah beranjak dewasa bapak Sunarto
merantau ke Surabaya tanpa tujuan, dia hanya bertekad untuk mencari kerja, dan
merubah hidupnya dan keluarganya agar menjadi lebih baik.banyak rintangan yang
dia hadapi akan tetapi dia tidak pernah pantang menyerah hingga akirnya bapak
Sunarto menjadi sukses seperti sekarang. Beliau juga bereperan penting dalam
penutupan lokalisasi di Dolly.
Sekian
ulasan saya mengenai kuliah lapang Dakwah Kontemporer dan Enterpreneurship
sebagai pelengkap penutupan ulasan saya, saya cantumkan beberapa kesan tentang
kuliah lapang Ilmu Dakwah yang diampu oleh Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M. Ag
pada tanggal 13 April 2019 dengan tema Dakwah Kontemporer dan
Enterpreneurship. Bertempat di Masjid At-Taubah yang berlokasi di
Kupang Gunung Timur VII B/141 Surabaya.
- . Di kuliah lapang Ilmu Dakwah ini saya bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang hebat. Beliau-beliau merupakan orang-orang yang berpengaruh terhadap penutupan lokalisasi di Dolly.
- \ Memberikan saya banyak motivasi tentang perjalanan hidup
- Berkat kuliah Ilmu Dakwah saya mengetahui dimana letaknya Dolly
- Berkat kuliah Ilmu Dakwah saya juga mengetahui banyak metode-metode yang efisien yang dapat digunakan untuk berdakwah
- Berkat mata pelajaran Ilmu Dakwah saya jadi bisa cepat hafalan, karena dikejar deadline.

Komentar
Posting Komentar